Hati ini rasanya seperti dirobek pisau tajam, hingga luka dan
berdarah. Dimalam dingin berselimut kabut gelap, aku tak berhenti meneteskan airmata
saat membaca buku bersampul hijau yang tersimpan di laci itu. Buku diary dari mantan
kekasihmu, entah kekasih yang keberapa aku tak tahu. Dengan membacanya aku tahu
awal perkenalanmu dengan dia, apa yang telah kau lakukan bersamanya hingga kau
berpisah dengannya. Seolah semuanya terlihat jelas di depan mataku.
Langit pun turut berduka untukku, seolah merasakan derita
hatiku saat ini. Ingin segera aku membakar diary itu, tapi rasa penasaran telah
menggeroti jiwaku. Memaksaku untuk terus membacanya hingga halaman terakhir.
Walaupun aku sadar, semakin aku membacanya, semakin tambah luka di hati ini.
Kau menyimpan rapat semua kenanganmu bersamanya, hingga
akhirnya aku sendiri yang menemukan celah itu. Kenapa kau masih menyimpan diary
itu sayang? Apakah kau masih berharap untuk kembali bersamanya? Masihkah ada
rasa cinta dan sayang di hatimu untuk dia? Beribu pertanyaan mulai menghujani
pikiranku.
Fitri, dialah penulis dari diary itu. Seperti apakah dia
sayangku hingga dia bisa membuatmu terpikat? Ingin rasanya aku maki dia, aku
lukai dia dengan pisau dapur tajam seperti dia melukai hatiku saat ini. Aku tak
rela jika kau disentuh, dipeluk, apalagi dicium olehnya. Sayang, aku
mencintaimu, sangat amat mencintaimu. Aku ingin cuma aku dan selalu aku yang
ada di hatimu. Aku tahu aku bukanlah cinta pertama mu, tapi aku ingin menjadi
yang terakhir untuk mu. Aku tak ingin kau membagi cintamu untuk wanita lain. Aku
ingin kau selalu setia menemaniku hingga akhir waktu nanti.
No comments:
Post a Comment